Rabu, 23 Oktober 2013

NILAI-NILAI BUDAYA DALAM KUMPILAN CERPEN “SEPI PUN MENARI DI TEPI HARI” KARYA RADHAR PANCA DAHANA DKK #



________________________________________



NAMA                             : HARNANI
NOMOR STAMBUK      :A1D1 05 003
PROGRAM STUDI         :PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JUDUL PENELITIAN :NILAI-NILAI BUDAYA DALAM KUMPULANCERPEN“SEPI PUN MENARI DI TEPI HARI “ KARYA RADHAR PANCA BAHANA DKK
DOSEN PEMBIMBING : 1. Dra. Nurlaela, M.Pd.
                                           II. La Ode Syukur S.Pd., M. Hum.
TAHUN SKRIPSI           :2012
_______________________________________

                                                             KESUSASTRAAN
NILAI-NILAI BUDAYA DALAM KUMPILAN CERPEN “SEPI PUN MENARI DI TEPI HARI” KARYA RADHAR PANCA DAHANA DKK

                                                                  WA FATIMA
                                                                  A1D1 11 058

                                                                    ABSTRAK

Sastra dan tata nilai kehidupan adalah dua fenomena sosial yang saling melengkapi dalam kehadirannya sebagai sesuatu yang eksistensial.sebagai bentuk seni, kehadiran sastra bersumber dari kehidupan yang bertata nilai yang pada gilirannyasastra juga akan memberikan sumbangannya bagi terbentuknya tata nilai. Penelitian ini berjudul Nilai Budaya Dalam Kumpulan Cerpen “ Sepi Pun Menari di Tepi Hari” karya Radhar Panca Dahana, Dkk. Masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimanakah nilai budaya dalam kumpulan cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari karya Radhar Panca Dahana, Dkk ?”. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai budaya dalam kumpulan cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari karya Radhar Panca Dahana, Dkk yang terdapat dalam cerpen tersebut. Manfaat penelitian ini adalah (1) sebagai sumbangan pemikiran dalam upya meningkatkan mutu dan apresiasi karya sastra bagi penikmat sastra, (2) dapat dijadikan pengetahuan pengajaran dan pembelajaran dalam kaitannya dengan pelajaran bahasa dan sastra Indonesia khususnya pembelajaran sastra, (3) sebagi acuan dan informasi bagi peneliti selanjutnya yang ingin mendalami sasta Indonesia, khusnya cerita pendek Indonesia modern, yaitu dari segi unsure intrinsic dan ekstrinsiknya.
Penelitian ini termasuk penelitian kespustakaan, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data dar penelitian ini adalahbuku kumpulan cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari yang diterbitkan oleh Kompas, Jakarta, Juni 2004. Data dalam penelitian ini adalah data tulis berupa 2 teks cerpen yaitu cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari dan Keroncong Cinta. Teknik pengumpulan data ang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca catat. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan structural.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwacerpen “ Sepi Pun Menari di Tepi Hari”. Dan “ Keroncong Cinta” mengandung nilai-nilai budaya (1)Nilai Moral, (2) Nilai Kesenian, (3) Nilai Kejujuran, (4) Nilai Kesetiaan, yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Adapun nilai budaya yang terdapat dalam cerpen “Sepi Pun Menari di Tepi Hari” terdapat nilai budaya; nilai moral, nilai kesenian, nilai kejujuran, nilai kesetiaan. Dalam cerpen “ Keroncong Cinta” terdapat nilai budaya; nilai kesenian, nilai kejujuran, dan nilai kesetiaan.
Cerpen ini dapat disajikan sebagai bahan pembelaarandi sekolah, sebagai bahan acuan bagi siswa untuk engenal lebih jauh pembelajaran sastrA.
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seni sastra atau kesusastraan adalah karya seni yang mempergunakan bahasa. Karya sastra juga merupakan bagian dari seni yang mengungkap sejumlah fenomena manusia dan kemanusiaan yang pada akhirnya menimbulkan efek-efek tertentu bagi pembacanya. Dalam karya sastra pengalaman atau peristiwa yang dituangkan bukanlah pengalaman atau peristiwa yang sesungguhnya tetapi merupakan hasil rekaan saja. Dengan kata lain dunia sastra adalah dunia khayal atau dunia yang terjadi karena khayalan pengarang.
Membaca sebuah karya sastra khususnya cerpen (cerita pendek) adalah sam halnya dengan membaca karya sastra berbentuk novel dimana merupakan kegiatan yang paradoks. Pembaca seakan berada di dunia ciptaan, dunia rekaan yang herus di teelah dan dimaknai sehingga pada akhirnya dapat dikenal. Hala ini sejalan dengan pendapat Nurhadi (1987:127) yang menyatakan bahwa membaca dan memahami karya sastra bukaanlah pekerjaan yang mudah, karena kita dihadapkan dengan sebuah tekstertentu yang diberi makana atau nilai , hal-hal yang menyimpang, aneh dan mengejutkan dalam ciptaan sastra itu dinaturalisasikan, dikembalikan pada sesuatu yang kita kenal dan kita pahami secara komunikatif.
Cerpen adalah salah satu karya sastra yang isinya relative tidak panjang, dan didalamnya terdapat pergolakan jiwa pelakunya sehingga secara keseluruhan cerita bias menyentuh nurani pembaca yang dapat dikategorikan sebagai buah sastra cerpen itu. Didalam cerpen terdapat unsure-unsur yang membangunnya yakni unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsure instrinsik adalah unsure yang membangun karya sastra dari dalam. Unsure-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir. Unsure instrinsik sebuah cerpen adalah unsure-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Unsure ekstrinsik adalah unsure-unsur yang mempengaruhi karya sastra dari luar, tetapi secara langsung berpengaruh pada bangunan atau system oragisme karya sastra. Unsure-unsur itu seperti sosial budaya, ekonomi, agama, pendidikan dan sebagainya.
Dalam penelitian ini penulis mengkaji cerpen dari enam belas cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen “Sepi Pun Menari di Tepi Hari”. Cerpen pertama berjudul “Sepi Pun Menari di Tepi Hari” karya Radhar Panca Dahana berkisah tentang seorang gadis desa yang bernama Arsih yang suka nonton film India, pakai daster, bicara tentang tetangga di desa, dan haus akanbarang-barang baru dan seorang pemuda bernama Ir. Gulian Putra Ariandru, M.A. atau lebih akarab dipanggil Mas Guli yang suka nonton film Dustin Huffman dan Roman Fikram Seth, menulis dan baca buku. Pertemuan mereka berawal dari panggung dangdut dan kemudian membawa mereka ke sebuah pernikahan. Namun perbedaan kelas dan latar sosial budaya menjadi kontras dan menjembatani kehidupan rumah tangga mereka.
Dalam tulisan ini, yang akan diuraikan adalah dua teks cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen “Sepi Pun Menari di Tepi Hari” karya Radhar Panca Dahana, Dkk pilihan kompas tahun 2004 yang diterbitkan oleh buku kompas cetakan pertama tahun 2004. Teks ini menyorot permasalahn hubungan laki-laki dan perempuan yang diperumit oleh Latar belakang yang berbeda, yang menjadi problem masa kini. Cerpen tersebut bertemakan cinta dan perbedaan.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka penulis merasa tertarik untuk mengkaji dua cerpen dalam kumpulan cerpen “Sepi Pun Menari di Tepi Hari” karya Radhar Panca Dahana, Dkk. Kedua cerpen tersebut menyorot permasalahan hubungan laki-lakindan perempuan yang diperumit oleh katar belakang yang berbeda. Jika kita telusuri karya ini akan tedapat nilai-nilai kehidupan terutama nilai-nilai yang berhubungan dengan nilai budaya yang banyak memberikan teladan bagi masyarakat, pertimbangan-pertimbangan yang luhur tentang sifat-sifat yang baik dan yang buruk juga dapat MA kelas X semester 1 bardasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP) memuat standar kompetensi membahas cerpen melalui kegiatan berbicara, dengan kompetensi dasar mengemukakan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerita pendek melalui kegiatan diskusi dan menemukan nilai-nilai cerit pendek melalui kegistsn diskusi. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka penelitian ini sangat relevan dengan pembelajaran di sekolah dan penelitian ini layak digunakan sebagai bahan ajar di sekolah.
2. KAJIAN TEORI
2.1 Konsep Cerpen
Cerpen adalah salaha satu karya sastra yang isinya relative tidak panjang, dan didalamnya terdapat pergolakan jiwa pelakunya sehingga secara keseluruhan cerita bias menyentuh nurani pembaca yang dapat dikategorikan sebagai buah sastra cerpen itu. Menurut Matheuw (dalam Zulfahnur, dkk, 1996:62) bahwa bukanlah cerpen jika tidak ada sesuatu yang diceritakan. Di dalam cerpen, sesuatu senantiasa terjadi dan harus ada perbuatan.
Summer (dalam Zulfahnur, dkk, 1996: 62) menjelaskan bahwa suatu sketsa pribadi, sebuah cacatan kejadian atau peristiwa, sebuah percakapan atau sebuah catatan harian, bukanlah cerita pendek. Hal itu baru disebut cerita pendek apabila ada perubahan dalam sikap menulis dan tujuan pengarangnya.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapatlaha disimpulkan bahwa cerita pendek adalaha suatu karya sastra berbentuk prosa yang relative panjang, dan melukiskan kejadian dan peristiwa apa saja yang menyangkut persoalan jiwa dan kehidupan sosial budaya manusia.
2.2 Ciri-Ciri Cerita Pendek
Menurut Jakob Sumardjo dan Saini KM (1986:36-37), ada tiga cirri cerpen ber ikut ini :
1. Menurut bentuk fisisknya, cerpen adalah cerita pendek. Cerita yang panjangnya sepuluh atatu dua puluh halaman bias disebut cerpen, tapi ada juga cerpen yang panjangnya satu halaman.
2. Cerpen adalah karangan yang memiliki sifat rekaan (fiktif). Cerpen bukan peneturan kejadian yang pernah terjadi, tetapi nurani ciptaan saja yang direka oleh pengarangnya.
3. Cerpen mempunyai sifat naratif atau penceritaan.
Ketiga cirri tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu sama lainnya. Sifat naratif atau penceritaan hanya berlaku bila didukung oleh cirri yang kedua, yaitu rekaan. Demikian pula cirri yang pertama, hanya dapat berlaku berlaku atau diterima sebagai cerpen apabila dikaitkan dengan unsure lainnya.
2.3 Unsur-Unsur Cerpen
Cerpen dibentuk oleh struktur yang berasal dari dalam cerpen yang disebut dengan unsure instrinsik, dan struktur dari luar yang turut mempengaruhi terbentuknya sebuah cerpen disebut dengan unsure ekstrinsik (Nurgiantoro, 1955: 36). Unsure instrinsik cerpen meliputi tema dan amanat, penokohan dan perwatakan, alur, latar atau setting. Unsure ekstrinsik meliputi factor sosial politik, budaya, keagamaan, ekonomi, serta tata nilai yang dianut oleh masyarakat (Semi, 1988:35)
Kedua unsur tersebut dalam sebuah cerpen saling berhubungan. Baik struktur luar maupun struktur dalam yang dianggap mem[unyai fungsi yang sama dalam membangun sebuah cerpen.
2.4 Fakta-Fakta Cerita
Menurut Stanton (Wahid, 2004:84) dalam sebuah meliputi tokoh cerita, plot, dan setting. Ketiganya merupakan unsure fiksi yang secara factual dapa dibayangkan peristiwanya, eksistensinya dalam sebuah cerita.
2.4.1 Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah rekaan individu yang berwujud manusia atau binatang yang mengalami peristiwa atau lakuan dalam cerita. Sedangkan penokohan bersal dari kata “tokoh” yang berarti pelaku, karena yang dilukiskan mengenai watak-watak tokoh atau pelaku cerita.
Berdasarkan fungsinya, kajian pewatakan menampilkan adanya tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan utama atau menjadi pusat sorotan di dalam itensitas keterlibatannya dalam suatu cerita. Sedangkan tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya didalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tohoh utama (Wahid, 2004: 84).
2.4.2 Alur atau Plot
Alur atau plot merupakan salah satu aspek penting dalam sebuah cerita. Rangkaian peristiwa atau tahapan peristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita,yang dialami tokoh-tokohnya. Dari segi kualitas, ada dua macam alur yaitu (a) alur erat atau rapat dan (b) alur longgar atau renggang. Dalam alur erat, hubungan antara peristiwa-peristiwa sangat padu dan kompak. Tak ada satu peristiwa pun yang ditinggalkan karena peristiwa-peristiwa itu saling berkaitan dan memengaruhi. Ditinjau dari segi tegangan, secara teoritis ada tiga macam alur, yakni (a)alur menanjak, (b) alur menurun, (c) alur piramidal.
2.4.3 Latar/Setting
Pada dasarnya setiap karya sastra (cerpen) yang membentuk cerita selalu memiliki latar. Latar adalaha situasi tempat, ruang, dan waktu kejadiannya cerita. Latar atau setting juga disebut landas tumpu, mengaraha pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungang sosial tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan, Abrams (Wahid, 2004:88).
2.5 Nilai
Nilai hanya dapat dihayati, nilai keindahan hanya dapat dihayati pada gejala yang Nampak pad lukisan, nilai kebaikan dapat dihayati pada gejala yang Nampak dalam tindakan atau perbuatan seseorang. Beberapa nilai yang penting manusia agar dapat menjadi hamba yang saleh, manusia bijaksana, berbudi pekerti yang luhur, dan mencintai keindahan adalah nilai religious (keagamaan), nilai ajaran (filsafat), nilai moral (etika), dan nilai keindahan (estetika).
2.5.1 Nilai Kebudayaan
Nilai-nilai budaya yang terdapat dalam cerpen “Sepi Pun Menari di Teipi Hari” mengacu pada pendapat Taylor, dimana ia menyatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kejujuran, kesenian, moral, kesetiaan, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan nilai yang didapat seseorang sebagai anggotab masyarakat.
2.5.1.1 Nilai Moral
Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin di sampaikan kepada pembaca. Karya sastra mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkahlaku para tokoh sesuiai dengan pandangan moral. Melelui cerita, sikapa dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan atau diamanatkan.
2.5.1.2 Nilai Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hti nuraninya, apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan kenyataannya yang ada pada hakekatnya, kajujuaran atau jujur dilandasi dengan kesadaran moral yang baik.
2.5.1.3 Nilai Kesenian
Seni adalah hal-hal yang menimbulkan rasa indah yang tinggi nilainya, sehingga menimbulkan rasa senang untuk memenuhi kebutuhan batin seseorang akan keindahan. Oleh karena itu seni duperlihatkan atau dipertunjukkan sebagai hiburan bagi yang menikmatinya.
2.5.1.4 Nilai Kesetiaan
Secara umum kesetiaan menunjuk kepada tekad dan kesanggupan mentaati, melaksanakan danmengamalkan sesuatu yang disertai dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab (Musanef, 1989:208)
2. METODE PENELITIAN
Penelitian objek kajian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan objek kajian berupa buku cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari karya Radhar Panca Dahana, dkk.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode deskriptif maksudnya penyajian data secara terurai berdasarkan kenyatan-kenyataan objektif sesuai dengan data yang terdapat dalam cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari karya Radhar Panca Dahana. Metode kualitatif digunakan untuk menguraikan konsep-konsep pemahaman dan pemberian interpertasi yang disampaikan secara verbal dan berpedoman pada teori-teori sastra yang relevan cerpen sebagai objek kajian dalam penelitian ini.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
3.1 Fakta-Fakta Cerita
3.1.1 Tokoh dalam cerpen “Sepi Pun Menari di Tepi Hari”
Dalam cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari karya Radhar Panca Dahana terdapat beberapa tokoh yaitu, Arsih, Mas Guli, Yu Ti (pembantu), Mbakyu Tumi, Sudri, Ibu dan Bapak Arsih. Tokoh utama dalam cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari yang pertama ialah Arsih, dimana tokoh ini merupakan pusat penceritaan dalam cerpen, dan yang kedua ialah Ir. Gulian Putri Ariandru, MA atau yang lebih dikenala dengan sapaan Mas Guli. Tokoh Mas Guli sangat berseberangan dengan tokoh Arsih.
3.1.2 Alur
Cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari terdiri atas empat bagian, yakni perkenalan, konflik, klimaks dan penyelesaian. Permulaan cerita sekaligus perkenalan kedua tokoh dimulai dengan kabar pernikahan antara Arsih dan Ir. Gulian Putra Ariandru, A.M.A. atau yang dikenal dengan sapaan Mas Guli.
“ kabar gembira dating pagi hari”
Selasa, 19 Agustus 1997. Dihadapkan lebih dari 500 undangan yang memenuhi aula serbaguna RW 18, Kelurahan Pondok Petir, pinggir selatan Ibu Kots, telah dinikahkan secara resmi Ir. Gulian Putra Ariandru MA, 29 tahun denan Arsih, 22 tahun.
Pada bagian yang kedua yang diuraikan adalah konflik antara Arsih dan Mas Guli. Bagian ini dipaparkan ketika Mas Guli mengetahui bahkan memergoki istrinya sendiri. Arsih ketahuan merokok, pergi ke kafe atau mampir ke kabin karaoke dan juga minum-minuman keras. Dan semua terbongkar ketika sudah berlangsung setahun.
Pada bagian ketiga alur mencapai klimaks. Setelah konflik yang terjadi antara mereka, Arsih meminta untuk pulang pada kedua orang tuanya, namun seminggu kepulangan Arsih, Mas Guli masuk rumah sakit, Mas Guli terkena Stroke, dan semua masalah beruntun dating. Semu pekerjaan Mas Guli sudah tak terurus lagi sehingga ia dipensiundinikan oleh perusahaan. Uang sudah mulai menipis, pembantu dan tukang kebun dipecat, barang-barang mulai dijual oleh Arsih guna memenuhi kebutuhan hidup. Tak ada lagi komunikasi diantara mereka, cinta berubah menjadi kebencian.
Pada bagian keempat atau penyelesaian, cerita diakhiri dengan datangnya kabar duka dari sepasang suami istri yang ditemukan bunuh diri.
“ Kamis, 22 September 2002. Sepasang suami stri ditemukan bunuh diri. Di dada mereka tertancap sebilah belati. Namun satu tangan mereka menggenggam erat jari-jari”.
3.1.3 Latar
a. Latar tempat
Peristiwa yang terajdi dalam cerpen ini terjadi di empat latar tempat. Yakni latar pertama bertempat di sebuah aula serbaguna, yang kedua berlatar di panggung pertunjukkan wayang kulit, yang ketiga di sebuah panggung dangdut, dan yang keempat berlatar di sebuah kamar mandi, ketika Mas Guli memergoki istrinya sedang terengah-engah hebat karena onani.
b. Latar Waktu
Penggunaan latar berikut ini menunjukkan waktu terjadinya cerita.
“Ada apa sih Mas ? Tanyaku ketika pulang, menjelang pukul sepulu malam. Dia malah pergi tidur“. Latar yang digambarkan pada malam hari.
Latar yang kedua menerangkan peristiwa yang terjadi dan berlangsung secara jelas.
“Kamis, 22 September 2002. Sepasang suami stri ditemukan bunuh diri. Di dada mereka tertancap sebilah belati. Namun satu tangan mereka menggenggam erat jari-jari”.
c. Latar Sosial
latar sosial yang melatar belakangi cerita ini adalah perbedaan kelas dan latr sosial yang begitu kontras. Arsih seorang gadis desa yang suka nonton film India, pakai daster, bicara tentang tetangga di desa, dan haus akanbarang-barang baru. Ir. Gulian Putra Ariandru, M.A. atau lebih akarab dipanggil Mas Guli yang suka nonton film Dustin Huffman dan Roman Fikram Seth, menulis dan baca buku, bajunya selalu putih. Selain itu ditunjukkan pula suasana kehidupan yaitu antara suasana kehidupan di desa dan di kota, misalnya di desa masih menjaga dan melestarika budaya daerah seperti pertunjukkan wayang kulit, keudian di kota kebebasan merokok, ke kafe, ke kabin karaoke dan minum-minuman keras.
3.2 Nilai Budaya Cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari karya Radhar Panca Dahana
3.2.1 Nilai Kesenian
Dalam cerpen Sepi Pun Menari di Tepi Hari karya Radhar Panca Dahana ini mengandung nilai kesenian. Hal ini gambarkan pada tokoh Arsih yang sangat mencintai kesenian. Utamanya kesenian wayang kulit untuk masyarakat jawa pada umumnya, dimana wayang tersebut merupakan salah satu warisan budaya Indonesia. Berikut kutipannya.
“ Namanya Arsih, ku jumpai pertama, kedua, dan ketiga kalinya selalu di pertengahan pertunjukkan wayang kulit”.
“ Untuknya, aku harus pandai mencari pergelaran wayang kulit di seantero Ibu kota. Atau sesekali ke wayang orang Bharata”.
3.2.2 Nilai Kejujuran
Nilai budaya kejujuran dalam cerita ini terdapat pada tokoh Arsih, ketika ia hendak pulang ke rumah orang tuanya di desa dan berpamitan kepada suaminya. Berikut kutipannya.
“Sudah lebih setahun aku memang belum pulang.lebaran cumin ngirimin uang dan bingkisan di desa. Mas Guli banyak kerjaan. Jujurnya, aku mulai bosan dengan teman-temanku, ibu-ibu sekompleks, dengan Yu Ti, dengan Romi kucingku, dengan Mas Guli. Aku gak tahu harus bagaimana. Aku in kenapa, aku mau pulang Mas !”.
3.2.3 Nilai Moral
Nilai moral yang terdapat dalam cerpen Sepi Pun Mearidi Tep Hari ini dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Ia bukan saja merokok, pergi ke kafe,atau mampir ke kabin karaoke,tetapi juga membuat kelompok_entah apa namanya_dengan beberapa ibu muda, bahkan yang dating jauh dari kompleks perumahan kami. Aku memergokinya. Kembali Aku memergokinya ketika semua sudah lebih setahun berlangsung. Kamu juga minum bir ? ndak. Aku tak tahu, ia jujur atau kembali berahasia”.
Sikap tersebut merupakan perilaku yang tidak terpuji dan harus dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Selain penyimpangan moral, perbuatan tersebut sangat dilarang oleh agama karena dapat memabukkan dan menyebabkan perbuatan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
3.2.4 Nilai Kesetiaan
Kesetiaan dalam cerita ini adalah kesetiaan seorang istri terhadap suaminya. Hal ini tersirat dalam kutipan berikut.
“Arsih pulang seminggu, aku sakit keras. Keras, baahkan. Seknyong kolesterol dan asam uratku meningkat drastic. Aku harus diopname, seminggu kemudian, karena mulai ada gangguan jantung. Arsih sudah datang dan langsung mendampingiku, 24 jam di rumah sakit”.
Dari kutipan diatas menunjukkan ketika mendengar suaminya sedang sakit, Arsih langsung dating dari desa dan langsung mendampingi dan merawat suaminya di rumah sakit selama 24 jam.



4. DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru.
Azwar, Saifuddin. 1995. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Effendi Chairil, dkk. 1993. Nilai Budaya dalam Sastra Nusantara di Kalimantan Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nurgiantoro. 1995. Teori Penyajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mudah Press.



1 komentar:

  1. Titanium-Arms.com - Titanium Art
    The titanium plumbing Toto titanium price per ounce logo titanium gravel bike is a 3D metal core design that is a solid gold core design winnerwell titanium stove for the Toto mens titanium rings logo, a metal core design that offers an elegant

    BalasHapus