Sayang Ada Orang Lain
Karya. Utuy Tatang Sontani
Di rumah Suminto yang sempit dan sederhana. Suasana sepi. Tiba-tiba datang seorang laki-laki mencari Suminto.
Hamid: Minto... Minto... kamu masih tidur di siang begini?
(Sumini istri Suminto muncul dengan pakaian yang bagus)
Suminto ada?
Sumini: Mas... Mas... Ini ada pak Hamid!
(Minto muncul dengan kaus oblong dan sarung).
Hamid: Lho aneh...! Istrinya perlente, Suaminya kayak gembel.
Suminto: Dia mau pergi, ada urusan.
Hamid: dan kau, tinggal di rumah? Mengapa tidak berduaan saja sambil rekreasi. Ini kan hari minggu?
Suminto: Hari minggu malah lebih memusingkan. Uang tak ada, malas mau pergi. Diam di rumah, banyak yang nagih utang.
Hamid: Engkau selalu pesimis, Minto. Untung istrimu tidak.
Sumini: Perempuan jangan disamakan dengan laki-laki pak Hamid. Silahkan duduk pak Hamid, saya mau pergi dulu, ada urusan.
(mendekati Suminto, lalu mencium tangan berpamitan).
Saya pergi dulu Mas!
(Mini pergi keluar)
Hamid: Minto, beruntung sekali kamu memiliki istri seperti dia. Tapi anehnya, engkau selalu kelihatan lesu.
Suminto: Bagaimana tidak lesu, gaji pegawai rendahan seperti saya ini sangat tidak seimbang dengan harga-harga di pasar. Gaji yang saya terima sekarang hanya untuk hidup sepuluh hari saja, yang dua puluh hari mesti ditutupi dengan utang, kalu perlu menjual barang yang layak di jual. Kian lama utang bukan kian sedikit, pak Hamid, tapi makin menggunung. Aku bekerja bukan hanya untuk diriku dan istriku, atau biaya sekolah seorang anakku. Tapi semata-mata untuk mereka yang mengutangkan kepada istriku.
Hamid: Aku sudah beberapa kali menganjurkan supaya berubah cara berpikirmu. Kamu harus melihat realitas, berpikir yang dealektik. Mestinya kau tidak perlu pesimis dengan gajimu yang tidak cukup itu, kamu harus bisa menggunakan kesempatan dengan segala cara, agar rumah tanggamu menjadi kuat.
Suminto: Lantas, apa aku harus korupsi untuk menutupi kekurangan? Aku tidak bisa berbuat senista itu pak Hamid.
Hamid: Siapa yang menganjurkan kamu nuntuk korupsi? Aku tidak bilang begitu. Aku cuman menganjurkan agar kamu berpikir dialektis, agar kamu dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tapi... sudahlah, Minto, aku kesini sebenarnya mau pinjam reket Badmintonmu.
Suminto: Sudah tidak ada.
Hamid: Kemana?
Suminto: Sudah kujual untuk menutup kekurangan.
1. PENGERTIAN DRAMA
Menurut Santoso (1995:119), drama adalah kisah yang didramatisasi dan ditulis untuk dipertunjukkan di atas pentas oleh sejumlah pemain. Dalam hubungannya dengan istilah tokoh, drama diartikan sebagai ragam kesusastraan yang disajikan dalam bentuk teks atau naskah, menggunakan bentuk cakapan, bertujuan menggmbarkan kehidupan manusia, melalui perwatakan tokoh dan gerak.
Dirancang untuk dipentaskan di panggung. Inilah pembeda antara drama dengan karya sastra yang lain. Drama dapat dibedakan dengan karya sastra dan seni yang lain karena adanya dialog. Dialog memiliki kekuatan untuk memberikan gambaran awal pada pembaca bahwa yang sedang ia hadapi adalah sebuah naskah drama, bukan novel, cerpen, atau karya seni yang lain. Drama sebagai karya sastra dari Drama segi bentuk fisik ditampilkan dalam bentuk yang menyerupai percakapan. Percakapan ini ditambah dengan kadar emosi, ekspresi, dan akting yang wajar untuk mencapai penciptaan estetika. Dengan memainkan emosi, ekspresi dan akting, seorang actor dapat merangsang penonton atau pendengar untuk menemukan karakter apa yang sedang dimainkan oleh seorang actor.
2. UNSUR INSTRINSIK DRAMA
1. Tema
Kata tema berasal dari bahasa latin theme yang berarti pokok pikiran Scarbach (dalam Aminuddin, 1995:91) mengartikan tema sebagai tempat meletakkan suatau perangkat karena tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang yang memaparkan fiksi yang dibuatnya.
Tema adalah suatu gagasan pokok atau pikiran dalam membuat suatu pikiran dalam membuat suatu tulisan. Menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia, tema adalah gagasan, ide pokok, persoalan yang menjadi dasar cerita.
2. Alur atau Plot
Menurut Zaidan (2000:26) alur adalah struktur yang berwujud jalinan peristiwa di dalam karya sastra yang memperlihatkan kepaduan (koherensi) tertentu yang diwujudkan antara lain hubungan sebab-akibat, tokoh, tema atau ketiganya.
Jalinan peristiwa dalam sebuah karya sastra dapat diwujudkan dalam bentuk tahapan-tahapan dalam pengembangan cerita atau kisah dalam karya sastra. Jalinan kisah atau cerita ini dapat diurutkan secara kronologis dimana kejadiannya digambarkan dari awal, tengah, dan akhir. Dapat pula digambarkan dengan menggunakan teknik penggambaran kilas balik sehingga urutan cerita atau kisah dapat dimulai di tengah, akhir kemudian awal.
Berdasarkan kriteria urutan waktu, alur dibedakan atas: alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Alur maju disebut juga alur kronologis, alur lurus atau alur progresif. Yaitu alur yang bergerak urut dari awal hingga akhir tulisan. . Alur mundur disebut juga alur tak kronologis, sorot balik, regresif, atau flash-back. Peristiwa-peristiwa ditampilkan dari tahap akhir atau tahap tengah dan baru kemudian tahap awalnya. Dan perkenalan sebagai urutan fase terbalik yang sudah barang tentu akan membuat tulisan menjadi berbeda karena tuturan cerita akan terbalik dengan ditampilkannya amanat ataupun kesimpulan cerita terlebih dahulu. Sedangkan Alur campuran merupakan hasil paduan dari maju dan mundur. Ini tentunya masih menggunakan 6 unsur penyusun plot. Meski demikian susunanya dapat diganti dan disusun ulang tanpa berurutan.
Dalam alur terdapat bagian terpenting, yaitu klimaks atau puncak ketegangan konflik. Klimaks harus tajam agar misi drama tercapai. Drama yang datar tidak menarik. Adapun bagian-bagian plot (unsur pembentuk alur) drama sebagai berikut:
1) Eksposisi (pelukisan awal), yaitu bagian cerita yang bertujuan memperkenalkan cerita, tokoh, dan drama agar penonton memperoleh gambaran drama yang ditontonnya.
2) Konflik, yaitu keadaan dimana tokoh terlibat dalam suatu pokok permasalahan. Pada bagian ini awal mula terjadinya insiden pertiaian.
3) Komplikasi pertikaian, yaitu bagian cerita yang mengisahkan persoalan baru sebagai akibat konflik antartokoh.
4) Klimaks (puncak ketegangan), yaitu peristiwa puncak atau puncak konflik.
5) Peleraian, yaitu tahap peristiwa yang terjadi menunjukan perkembangan lakuan kearah selesaian.
6) Penyelesaian (happy ending/akhir bahagia, sed ending/akhir sedih), yaitu tahap akhir suatu cerita.
3. Tokoh dan Penokohan
1. Tokoh
Tokoh merupakan pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin cerita, atau tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Tanpa tokoh alur tidak akan pernah sampai pada bagian akhir cerita. Sesuai perannya dalam jalan cerita, tokoh drama dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:
1. Tokoh utama atau protogonis yaitu tokoh yang memiliki kehendak tertentu dalam cerita. Biasanya kehendak yang baik atau kebijakan. Oleh sebab itu, tokoh ini disebut tokoh berkarakter baik.
2. Tokoh penentang atau antagonis yaitu tokoh yang menentang kehendak tokoh utama. Tokoh ini disebut tokoh berkarakter jahat.
3. Tokoh penengah atau tritagonis yaitu tokoh yang perannya menengahi pertikaian antara tokoh utama dan tokoh penentang.
Ada tiga jenis tokoh bila dilihat dari sisi keterlibatannya dalam penggerakan alur, yaitu
1) Tokoh sentral merupakan tokoh yang amat potensial menggerakan alur. Tokoh sentral merupakan pusat cerita, penyebab munculnya konflik.
2) Tokoh bawahan merupakan tokoh yang tidak begitu besar pengaruhnya terhadap perkembangan alur, walaupun ia terlibat juga dalam pengembangan alur itu.
3) Tokoh latar merupakan tokoh yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap pengembangan alur. Kehadirannya hanyalah sebagai pelengkap latar, berfungsi menghidupkan latar.
Tokoh dalam cetita fiksi juga dapat dibedakan atas tokoh utama dan tokoh tambahan atau pembantu, yaitu:
1. Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita, tokoh dibagi menjadi:
1) Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam cerita yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.
2) Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya muncul sedikit dalam cerita atau tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung dan hanya tampil menjadi latar belakang cerita.
2. Jika dilihat dari fungsi penampilan tokoh, dapat dibedakan menjadi:
1) Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya disebut hero. Ia merupakan tokoh yang taat norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita (Altenbernd & Lewis dalam Nurgiantoro 2004: 178).
2) Tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan konflik atau sering disebut sebagai tokoh jahat. Tokoh ini juga mungkin diberi simpati oleh pembaca jika dipandang dari kaca mata si penjahat itu, sehingga memperoleh banyak kesempatan untuk menyampaikan visinya, walaupun secara vaktual dibenci oleh masyarakat.
3. Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi:
1) Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu atau sifat watak yang tertentu saja, bersifat datar dan monoton.
2) Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi, ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini.
4. Bedasarkan kriteria bekembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dalam sebuah novel, tokoh dibedakan menjadi:
1) Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi (Altenbernd & Lewis, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi 1994: 188).
2) Tokoh berkembang adalah tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi kejiwaannya.
5. Bedasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dalam kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi:
1) Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih ditonjolkan kualitas kebangsaannya atau pekerjaannya Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 190) atau sesuatu yang lain yang bersifat mewakili.
2) Tokoh netral adalah tokoh yang bereksistensi dalam cerita itu sendiri. Ia merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.
2. Penokohan
Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan atau melukiskan tokoh dalam cerita yang ditulisnya. Dalam penokohan, watak atau karakter seorang tokoh dapat dilihat dari tiga segi, yaitu dialog tokoh, penjelasan tokoh dan penggambaran fisik.
Ada dua jenis penokohan, yaitu:
1. Secara langsung atau deskriptif/analitik, dimana pengarang langsung malukiskan atau menyebutkan secara terperinci bagaimana watak sang tokoh, bagaimana ciri-ciri fisiknya, apa pekerjaannya, dan sebagainya.
2. Secara tidak langsung/dramatik, dimana pengarang melukiskan sifat dan ciri fisik sang tokoh melalui reaksi tokoh lain terhadap tokoh sentral, melalui gambaran lingkungan sekitar tokoh sentral, melalui aktivitas tokoh sentral, dan melalui jalan pikiran tokoh sentral, serta dapat diungkapkan melalui percakapan antar tokoh dalam cerita tersebut.
4. Dialog
Ciri khas suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog. Penulis naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam bahasa dalam dialog antar tokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif.
Selain dialog, dalam drama juga dikenal istilah monolog (adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri; pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri), prolog (pembukaan atau pengantar naskah yang berisi keterangan atau pendapat pengarang tentang cerita yang akan disajikan), dan epilog (bagian penutup pada karya sastra yang fungsinya menyampaikan intisari atau kesimpulan pengarang mengenai cerita yang disajikan).
5. Latar atau Setting
Menurut Nurgiyantoro (1994:227), latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya sastra. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Tempat-tempat yang bernama adalah tempat yang dijumpai dalam dunia nyata. Tempat dengan inisial tertentu, biasanya berupa huruf awalan (kapital) nama suatu tempat, juga menyaran pada tempat tertentu.
6. Petunjuk Laku
Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau para pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya. Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku).
7. Amanat
Amanat atau pesan adalah ajaran moral atu pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau penonton melalui karyanya. Amanat merupakan nilai implicit dalam cerita yang harus dicari penonton. Amanat dalam drama bias diungkapkan secara langsung (tersurat) dan bias juga tidak langsung atau memerlukan pemahaman lebih lanjut (tersirat). Drama yang baik hendaknya mengandung pesan kemanusiaan, sehingga mampu mengembalikan manusia kepada sifat-sifat kebaikannya.
3.UNSUR EKSTRINSIK DRAMA
Menurut Tjahyono (1985), unsur ekstrinsik karya sastra adalah hal-hal yang berada luar struktur karya sastra, namun amat mempengaruhi karya saatra tersebut. Unsur ekstrinsik pada karya sastra merupakan wujud murni pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca. Adapun unsur ekstrinsik dalam drama terdiri atas empat bagian, yaitu:
1. Nilai sosial-budaya, yaitu nilai yang berkaitan dengan norma yang ada dalam masyarakat. Nilai sosial budaya ini berhubungan dengan nilai peradaban kita sebagai manusia. Karena budaya mempunyai makna pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu yang sukar di ubah, dan sesuai dengan masalah-masalah yang terjadi pada manusia.
2. Nilai moral, yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti/asusila atau baik buruknya tingkah laku.
3. Nilai agama/religious, yaitu nilai yang berkaitan dengan tuntutan beragama.
Nilai ekonomi, yaitu nilai yang berkaitan dengan perekonomian.
ANALISIS DRAMA “SAYANG ADA ORANG LAIN”,KARYA UTUY TATANG SONTANI
a. Unsur Intrinsik
1. Tema
Tema dari drama Sayang Ada Orang Lain, karya Utuy Tatang Sontani, yaitu “Masalah Kurangya Kebutuan Ekonomi”.
Hal ini dapat dibuktikan dengan keluhan Suminto akan gajinya sebagai seorang karyawan sederhana yang tidak seimbang dengan harga-harga di pasar. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama sebulan, ia harus mengutang.
Suminto: Bagaimana tidak lesu, gaji pegawai rendahan seperti saya ini sangat tidak seimbang dengan harga-harga di pasar. Gaji yang saya terima sekarang hanya untuk hidup sepuluh hari saja, yang dua puluh hari mesti ditutupi dengan utang, kalu perlu menjual barang yang layak di jual. Kian lama utang bukan kian sedikit, pak Hamid, tapi makin menggunung. Aku bekerja bukan hanya untuk diriku dan istriku, atau biaya sekolah seorang anakku. Tapi semata-mata untuk mereka yang mengutangkan kepada istriku.
2. Tokoh dan Penokohan
Tokoh-tokoh yang terdapat dalam drama Sayang Ada Orang Lain, karya Utuy Tatang Sontani, yaitu:
1. Tokoh utamanya, yaitu Suminto. Ia adalah tokoh yang paling banyak di ceritakan, baik sebagaipelaku kejadian maupun dikenai kejadian.
2. Tokoh tambahannya, yaitu Sumini. Ia merupakan tokoh yang hanya muncul seikit dalam cerita. Dan kehadirannya hanya tampil menjadi latar belakang cerita.
3. Tokoh protagonisnya, yaitu Suminto. Ia merupakan tokoh byang baik dan pembangun alur dalam cerita.
4. Tokoh antagonisnya, yaitu Hamid. Ia merupakan yang memiliki kehendak berlawanan terhadap Suminto.
5. Tokoh sederhana, yaitu Suminto. Ia memiliki sifat yang baik dari awal hingga akhir cerita.
6. Tokoh statinya, yaitu Suminto. Ia merupakan tokohcerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi.
7. Tokoh sentralnya, yaitu suminto. Ia merupakan tokoh yang sangat potensial dalam menggerakkan alur.
8. Tokoh bawahannya, yaitu Hamid. Ia merupakan tokoh yang tidak begitu besar pengarunya terhadap perkembangan alur, walaupun ia terlibat juga dalam perkembangan aur itu.
Penokohan dalam drama Sayang Ada Orang Lain, karya Utuy Tatang Sontani yaitu:
1. Suminto, seorang lelaki yang jujur dan rajin. Kejujurannya ia tunjukkan dengan tidak mau melakukan tindakan korupsi sebagai seorang pegawai meskipun kehidupannya sangat sederhana dan kekurangan. Dan kerajinannya ia tunjukkun untuk terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan membayar orang-orang yang mengutangkan kepada istrinya.
2. Hamid, seorang lelaki yang baik. Hal ini ia tunjukkan dengan selalu menasehati Suminto untuk mengubah cara berpikirnya secara dialektik agar kehidupnya menjadi lebih baik.
3. Sumini, seorang wanita yang taat pada suami dan boros. Ketaatannya ia tunjukkan pada saat mencium tangan berpamitan. Sedangkan keborsannya ia tunjukkan untuk selalu mengutang dan Suminto harus membayar utang-utangnya.
3. Dialog
...
Hamid: Minto... Minto... kamu masih tidur di siang begini?
(Sumini istri Suminto muncul dengan pakaian yang bagus)
Suminto ada?
Sumini: Mas... Mas... Ini ada pak Hamid!
(Minto muncul dengan kaus oblong dan sarung).
Hamid: Lho aneh...! Istrinya perlente, Suaminya kayak gembel.
Suminto: Dia mau pergi, ada urusan
....
Kutipan diatas disebut dialog karena percakapan itu dilakukan lebih gdari dua orang. Kutipan teks drama diatas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara bergantian oleh tokoh Hamid, Sumini, dan Snminto.
4. Alur
Alur dari drama Sayang Ada Orang Lain, karya Utuy Tatang Sontani ini adalah:
1. Eksposisi (pelukisan awal)
a. Panggung menggambarkan sebuah rumah sepasang suami istri. Terdapat pintu dan di dalam rumah terdapat sebuah ruang tengah yang terdapat kursi dan meja.
(Pengenalan Latar Pentas)
b. Waktu drama dimulai, Hamid datang mencari Suminto di rumahnya. Saat itu pagi menjelang siang hari.
Hamid: Minto... Minto... kamu masih tidur di siang begini?
(Sumini istri Suminto muncul dengan pakaian yang bagus)
Suminto ada?
Sumini: Mas... Mas... Ini ada pak Hamid!
(Minto muncul dengan kaus oblong dan sarung).
(Pengenalan Para Tokoh)
Dari penggalan drama diatas, terlihat bahwa drama Sayang Ada Orang Lain ini dimulai dengan penggambaran latar pentas yang dibuat oleh pengarang sebagai pengantar cerita. Kemudian, dilanjutkan dengan pengenalan para tokoh yang diawali dengan pak Hamid datang mencari Suminto di rumahnya, hingga Sumini muncul dengan pakian yang bagus dan Suminto muncul dengan kaos oblong dan sarungnya.
2. Konflik
Hamid: Lho aneh...! Istrinya perlente, Suaminya kayak gembel.
Suminto: Dia mau pergi, ada urusan.
Hamid: dan kau, tinggal di rumah? Mengapa tidak berduaan saja sambil rekreasi. Ini kan hari minggu?
Suminto: Hari minggu malah lebih memusingkan. Uang tak ada, malas mau pergi. Diam di rumah, banyak yang nagih utang.
Hamid: Engkau selalu pesimis, Minto. Untung istrimu tidak.
Sumini: Perempuan jangan disamakan dengan laki-laki pak Hamid. Silahkan duduk pak Hamid, saya mau pergi dulu, ada urusan.
(mendekati Suminto, lalu mencium tangan berpamitan).
Saya pergi dulu Mas!
Dari penggalan drama diatas, terlihat bahwa Sayang Ada Orang Lain sudah mulai masuk pada tahap konflik atau masalah awal, dimana tokoh Suminto mengeluh akan keadaan kehidupannya sehari-hari yang selalu di datangi oleh penagih utang.
3. Klimaks (Puncak ketegangan)
Hamid: Minto, beruntung sekali kamu memiliki istri seperti dia. Tapi anehnya, engkau selalu kelihatan lesu.
Suminto: Bagaimana tidak lesu, gaji pegawai rendahan seperti saya ini sangat tidak seimbang dengan harga-harga di pasar. Gaji yang saya terima sekarang hanya untuk hidup sepuluh hari saja, yang dua puluh hari mesti ditutupi dengan utang, kalu perlu menjual barang yang layak di jual. Kian lama utang bukan kian sedikit, pak Hamid, tapi makin menggunung. Aku bekerja bukan hanya untuk diriku dan istriku, atau biaya sekolah seorang anakku. Tapi semata-mata untuk mereka yang mengutangkan kepada istriku.
Hamid: Aku sudah beberapa kali menganjurkan supaya berubah cara berpikirmu. Kamu harus melihat realitas, berpikir yang dealektik. Mestinya kau tidak perlu pesimis dengan gajimu yang tidak cukup itu, kamu harus bisa menggunakan kesempatan dengan segala cara, agar rumah tanggamu menjadi kuat.
Suminto: Lantas, apa aku harus korupsi untuk menutupi kekurangan? Aku tidak bisa berbuat senista itu pak Hamid.
Cerita ini mencapai puncaknya pada saat Hamid menyarankan kepada Suminto, agar ia mau berpikir secara dialektik, untuk menggunakan segala cara untuk memperbaiki kehidupannya menjadi lebih baik. Namun Suminto menanggapinya lain, ia berpikir bahwa Hamid menyuruhnya untuk melakukan korupsi.
4. Peleraian
Hamid: Siapa yang menganjurkan kamu nuntuk korupsi? Aku tidak bilang begitu. Aku cuman menganjurkan agar kamu berpikir dialektis, agar kamu dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tapi... sudahlah, Minto, aku kesini sebenarnya mau pinjam reket Badmintonmu.
Cerita ini dileraikan dengan tidak dilangsungkannnya kata-kata Hamid. Serta menyebutkan maksud tujuannya ke rumah Suminto untuk meminjam reket Badmintonnya.
5. Penyelesaian
Suminto: Sudah tidak ada.
Hamid: Kemana?
Suminto: Sudah kujual untuk menutup kekurangan.
Cerita ini diselesaikan dengan diberitahunya Suminto, bahwa reket yang ingin dipinjam oleh Hamid telah dijual untuk menutupi kekurangan kebutuhan hidupnya. Dan cerita ini berakhir dengan Sad ending/ akhir sedih. Karena Hamid tidak dapat meminjam reket Suminto yang telah dijual, begitupun dengan Suminto yang tidak bisa menemukan cara bagaimana agar dapat mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.
5. Latar/Setting
Latar dari drama Sayang Ada Orang Lain, karya Utuy Tatang Sontani ini terbagi tiga jenis, yaitu:
1. Latar Tempat
a. Di rumah Suminto, Tempat Hamid mencari Suminto.
Di rumah Suminto yang sempit dan sederhana. Suasana sepi. Tiba-tiba datang seorang laki-laki mencari Suminto
b. Ruang tengah rumah, tempat Hamid dan Suminto bebincang-bincang.
c. Di kursi, tempat dipersilahkan duduknya pak Hamid.
Sumini: Perempuan jangan disamakan dengan laki-laki pak Hamid. Silahkan duduk pak Hamid, saya mau pergi dulu, ada urusan.
(mendekati Suminto, lalu mencium tangan berpamitan).
Saya pergi dulu Mas!
(Mini pergi keluar)
2. Latar Waktu
Latar waktu yang ditunjukkan dalam drama ini hanya terjadi di siang hari. Hal ini dapat dilihat dari kutipan:
Hamid: Minto... Minto... kamu masih tidur di siang begini?
3. Latar Suasana
a. Aneh, suasana ketika Hamid melihat Suminto memakai kaus oblong dan sarung, sementara istri Suminto memakai pakaian bagus.
Hamid: Lho aneh...! Istrinya perlente, Suaminya kayak gembel
b. Pesimis, perasaan Suminto terhadap dirinya sendriri.
Suminto: Hari minggu malah lebih memusingkan. Uang tak ada, malas mau pergi. Diam di rumah, banyak yang nagih utang.
Hamid: Engkau selalu pesimis, Minto. Untung istrimu tidak.
c. Lesu, suasana ketika Suminto mengeluh akan kehidupannya yang sangat sederhana dan kekurangan dan harus memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengutang.
Suminto: Bagaimana tidak lesu, gaji pegawai rendahan seperti saya ini sangat tidak seimbang dengan harga-harga di pasar. Gaji yang saya terima sekarang hanya untuk hidup sepuluh hari saja, yang dua puluh hari mesti ditutupi dengan utang, kalu perlu menjual barang yang layak di jual. Kian lama utang bukan kian sedikit, pak Hamid, tapi makin menggunung. Aku bekerja bukan hanya untuk diriku dan istriku, atau biaya sekolah seorang anakku. Tapi semata-mata untuk mereka yang mengutangkan kepada istriku.
6. Petunjuk Laku
Petunjuk laku yang terdapat dalam drama Sayang Ada Orang Lain, yaitu diantaranya terdapat pada kutipan berikut:
...
Hamid: Minto... Minto... kamu masih tidur di siang begini?
(Sumini istri Suminto muncul dengan pakaian yang bagus)
Suminto ada?
Sumini: Mas... Mas... Ini ada pak Hamid!
(Minto muncul dengan kaus oblong dan sarung).
Sumini: Perempuan jangan disamakan dengan laki-laki pak Hamid. Silahkan duduk pak Hamid, saya mau pergi dulu, ada urusan.
(mendekati Suminto, lalu mencium tangan berpamitan).
Saya pergi dulu Mas!
(Mini pergi keluar)
....
7. Amanat
Amanat dari drama Sayang Ada Orang Lain, karya Utuy Tatang Sontani ini, yaitu:
1. Jangan pernah mengeluh terhadap kehidupan yang diperoleh meskipun sangat sedehana, karena jauh diluar sana masih ada orang yang lebih kekurangan daripada diri kita.
2. Jangan pernah melakukan suatu tindakan yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain.
3. Jujurlah terhadap pekerjaan kita.
b. Unsur Ekstrinsik
Nilai-nilai yang terkandung dalam drama Sayang Ada Orang Lain, karya Utuy Tatang Sontani, yaitu:
1. Nilai Sosial
Nilai sosial terletak pada pemikiran Suminto untuk tidak melakukan korupsi meskipun hidupnya sangat sederhana dan kekurangan.
Suminto: Lantas, apa aku harus korupsi untuk menutupi kekurangan? Aku tidak bisa berbuat senista itu pak Hamid.
Hamid: Siapa yang menganjurkan kamu untuk korupsi? Aku tidak bilang begitu. Aku cuman menganjurkan agar kamu berpikir dialektis, agar kamu dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tapi... sudahlah, Minto, aku kesini sebenarnya mau pinjam reket Badmintonmu
2. Nilai Moral
Nilai moral terletak pada saat Sumini berpamitan dan mencium tangan Suminto. Hal ini menunujukkan bahwa Sumini memiliki tingkah laku yang baik terhadap suaminya.
Sumini: Perempuan jangan disamakan dengan laki-laki pak Hamid. Silahkan duduk pak Hamid, saya mau pergi dulu, ada urusan.
(mendekati Suminto, lalu mencium tangan berpamitan).
Saya pergi dulu Mas!
(Mini pergi keluar)
3. Nilai Agama
Nilai agama terletak pada kejuuran Suminto terhadap pekerjaannya dengan tidak mau melakukan korupsi.
Suminto: Lantas, apa aku harus korupsi untuk menutupi kekurangan? Aku tidak bisa berbuat senista itu pak Hamid.
Hal ini menunjukkan bahwa ia ingat terhadap Tuhan dengan tidak mau menggunakan cara yang curang untuk mendapatkan sesuatu. Sebab Tuhan sangat murka terhadap orang yang melakukan sesuatu dengan cara yang curang, apalagi untuk kesenangan pribadi.
4. Nilai Ekonomi
Nilai ekonomi terletak pada kehidupan Suminto yang sederhana dan harus mengutang untuk memenuhi kehidupannya selama sebulan.
Suminto: Bagaimana tidak lesu, gaji pegawai rendahan seperti saya ini sangat tidak seimbang dengan harga-harga di pasar. Gaji yang saya terima sekarang hanya untuk hidup sepuluh hari saja, yang dua puluh hari mesti ditutupi dengan utang, kalu perlu menjual barang yang layak di jual. Kian lama utang bukan kian sedikit, pak Hamid, tapi makin menggunung. Aku bekerja bukan hanya untuk diriku dan istriku, atau biaya sekolah seorang anakku. Tapi semata-mata untuk mereka yang mengutangkan kepada istriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar